Tuesday, January 17, 2017

Me-Teru no Kimochi: Komik Imoral yang Tak Layak Dipublikasikan

Spoiler alert. Duh.

Incest bukan merupakan fenomena baru, tapi di Indonesia sendiri, fenomena ini baru terlihat dan “populer” (in a wrong way). Beberapa waktu lalu beredar gambar romantis seorang ibu paruh baya bersama dengan anaknya. Telanjang, sambil bercumbu. I’m not here to judge, but I think its pretty obvious.

Menjijikkan.

Tiap fenomena pasti ada cerita unik dibaliknya. Tapi, betapa uniknya pun kisah itu, hingga memenangkan hati seluruh umat manusia sekali pun, tak dapat menjadi pembenaran atas dosa yang telah mereka perbuat.

Yes, we are living in an age where opinions could win over the truth and justice.

Incest, salah satu topik tabu yang saya benci. Dan hal ini saya temukan dalam salah satu karya Hiroya Oku berjudul Me-teru no Kimochi. Kisah dimulai dengan perseteruan Shintaro Koizumi yang seorang hikikomori dengan sang ayah. Layaknya kasus hikikomori pada umumnya, Shintaro menyalahkan ayahnya atas semua kejadian yang menimpanya dan memaksanya untuk menjadi hikikomori selama 15 tahun (ini pandangan subjektif sang karakter saja, not exactly the truth). Sampai akhirnya, keduanya memiliki kesepakatan, jika sang ayah dapat memiliki pacar, maka Shintaro akan mengakhiri kehidupannya sebagai hikikomori.

Tanpa sepengetahuan Shintaro, ternyata ayahnya sudah memiliki pacar sejak lama. Yoshinaga Haruka, seorang karyawati muda, cantik, manis, seksi dan memiliki (maaf) payudara yang besar—I had to say the last part because Shintaro kept praising her breast through the manga. Karena tak percaya, Shintaro melanggar janjinya dan membiarkan keduanya menikah dan berbulan madu.

Belum sempat kembali ke rumah, ternyata sang ayah meninggal tiba-tiba. Haruka, karena telah menjadi ibu angkat dari Shintaro, merasa memiliki beban tanggung jawab yang dipikul suaminya dan melanjutkan 15 tahun perjuangan suaminya agar anaknya dapat lepas dari status hikikomori-nya. Sepanjang seri, Shintaro menaruh rasa suka pada Haruka, ibu angkatnya yang masih amat muda itu.

Now, here’s the thing.

As you expect, dari komik bergenre incest, maka kita dapat melihat beragam sex joke yang ada dalam komik ini. Heck, the content is so serious that I don’t even count them as a joke anymore. Dan, dalam 28 bab yang terpublikasikan, Hiroya Oku menggunakan hak prerogatifnya untuk membuat sebuah keputusan yang…how do I say it…”blow my mind” seems not cut it… Ah, heck, I just have to say it.

Atas permintaan Shintaro, ia dan Haruka melakukan hubungan intim pada penghujung kisah.

Hiroya Oku membuat skenario seakan-akan Shintaro is a lost cause, dan satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan masa depannya adalah membiarkan dirinya merasa dicintai. The problem is, Shintaro yang sudah 15 tahun menjadi hikikomori benar-benar tidak memahami konsep cinta dan menyamakan nafsu birahinya sebagai perasaan cinta, yang mana ia juga salah menempatkannya (pada ibu angkatnya sendiri). How do I say it, eh?

It’s f***ing messed up.

Saya sudah mengenali karya Hiroya Oku sejak beberapa tahun yang lalu dan hal ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Opini “kalau saya tidak melakukan ini, saya pasti gagal dalam kehidupan” dan akhirnya menghalalkan segala cara agar visi opini itu terwujud (seperti bersetubuh dengan ibu angkat super seksi itu) tanpa menunjukkan segala konsekwensi yang dapat terwujud dari keputusan tersebut.

Tidak, kalau anda menganggap Hiroya Oku akan menutup kisahnya dengan “Ya, jangan ditiru ya hal seperti ini,” anda salah. As I said, Hiroya Oku seakan membenarkan keputusan Shintaro dan Haruka yang melakukan hubungan intim terlarang itu dengan menutup kisah ini dengan happy ending.


Not like I hate happy end, tapi “jembatan” yang menyambungkan antara masalah dengan konklusi cerita Me-Teru no Kimochi benar-benar membuat hati nurani saya terbakar.  Please, common sense. There’s something that you can do and you CAN NOT do in life and in work industries!

Terakhir, saya tegaskan, saya membenci komik ini. Bahkan saya lebih membenci fakta dimana saya bisa-bisanya meneruskan membaca sampai tamat.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Kalo dibaca dengan pikiran tertutup bahwa "incest is bad" pasti gaakan dapet pesannya.

    Itu Haruka ngajak pacaran sampe akhirnya berhubungan intim cuma 1 tujuan : buat ngasih rasa percaya diri ke Shintaro so he can stand up for himself. Umur mereka deketan dan cara alus gaakan cukup utk bkin dia berani mandiri (seperti diilustrasikan psikiaternya klo bapaknya dan Haruka bagaikan pilar tempat dia bersandar). Its her (inconventional) way of showing her love as a mother.

    Toh bisa diliat akhirnya Shintaro bangkit, bs punya usaha sndiri dan bahkan istri dan anak. Dan pada akhirnya dia nyamperin Haruka dan bilang "Terima kasih Ibu!", d situ jelas klo cinta mereka pada akhirnya adalah sebagai ibu-anak.

    Inti ceritanya justru di bagian kontroversial itu. There are many ways to show your love. This is one example that touched the moral borderline but still counts as one.

    ReplyDelete