Bagi orang yang membaca Gantz sejak awal seri, pasti bersimpati betul pada perkembangan karakter (character growth) pribadi Kurono Kei.
Jujur saja, sebagai pemuda, kita setidaknya pernah merasakan apa yang Kurono Kei itu rasakan—ingin disukai perempuan cantik, berusaha memberikan impresi yang baik padanya, cemburu jika ada lelaki lain yang dikaguminya, penasaran dengan seks, bernafsu ingin melakukannya dan sebagainya.
Don’t lie to me. We’ve been here.
Bagi saya, opening komik Gantz teramat menarik. Kurono Kei berdiri di sebuah platform subway, menunggu kereta berikutnya datang. Tiba-tiba ada seorang nenek-nenek yang kebingungan, lalu bertanya kepada jagoan kita yang sedang sibuk melihat majalah gravure (kira-kira mirip majalah FHM deh, banyak “binatang” perempuannya). Walau ia tahu arah yang dituju sang nenek, karena merasa mendokusai, akhirnya ambil jalan pintas dan berkata, “Iya, dari sini juga bisa, kok.”
Tentu, nenek tersebut merasa janggal dan bertanya lagi. As you expect, sebagai seorang ABG kurang ajar yang tak tahu diri, jagoan kita menjawab, “Nek, jangan terlalu bergantung pada orang lain.”
Dude, she’s just asking something so simple, tell her already! Don’t spout some lies just because it makes your life easy! Just, don’t do that, okay?!
Now, now, sekarang mari kita coba telaah dengan kritis fenomena ini. Bila anda pernah membaca Great Teacher Onizuka karya Fujisawa Tooru, komiknya, walau fiksi, tapi bercermin dari kehidupan pelajar Jepang yang tabu. Begitu tabunya, Fujisawa Tooru dikatakan sebagai salah satu mangaka yang berani membongkar di depan publik rahasia umum yang terlalu memalukan untuk dibahas secara kritis.
Nah, kembali pada sosok Kurono Kei, saya meyakini bahwa Hiroya Oku pun juga bercermin pada kehidupan nyata para pemuda Jepang dan menciptakan tokoh tersebut.
This is a problem. Seriously.
Karena, berlanjut pada subjek selanjutnya, mental pemuda yang seperti ini dapat membahayakan diri pemuda dan kelangsungan kehidupan berbangsanya. Salah satu ancamannya, bila diibaratkan dengan komik Gantz, adalah serangan alien yang masif pada Jepang. Jepang tentu tidak akan dapat menangkal serangan “alien” bila pemudanya masih bermental seperti Kurono Kei pada awal komik Gantz itu.
Simpelnya, Kurono adalah gambaran pemuda Jepang dan alien yang menyerang bumi adalah ancaman di luar Jepang yang dapat membahayakan kelangsungan negeri sakura itu.
If you think about it carefully, Kurono Kei yang masih hijau dalam semua perjuangan melawan penjajah itu kewalahan setengah mati (secara harfiah) untuk bertahan hidup di kotanya. Tapi, lihat bagaimana dia ketika mental dan kekuatannya sudah ditempa oleh pengalaman dan bekas luka perjuangan? He looks badass! Like, seriously!
Di situlah, saya melihat ada sebuah dorongan tak tersurat yang Hiroya Oku coba tanamkan dipikiran pembaca, terutama pembaca muda—kalian bisa lho menjadi kelihatan sekeren Kurono! Dia pun mulai dari titik terendah, dan pada akhir komik, ia dielu-elukan sebagai pahlawan dunia.
World hero for real! Damn, I say!
Perubahan yang menarik pun ada pada satu poin di pertengahan cerita, dimana Kurono Kei bertemu dengan nenek yang sama pada awal kisah. Nenek itu lagi-lagi bertanya mengenai arah tujuannya. Tidak bersikap dingin seperti sebelumnya, ia justru membantu nenek itu dengan wajah yang penuh senyum. Nah, inilah yang disebut sebagai perubahan, menjadi dewasa. Dan saya merasa, grand concept yang Hiroya Oku rencanakan dari komik Gantz adalah teori ini.
From zero to hero.
Not impossible, anyone just got to try and bear with it for a while. Until you reach your goal. Eventually.
Wallahua’lam.



No comments:
Post a Comment