Spoiler alert. Duh.
Incest bukan
merupakan fenomena baru, tapi di Indonesia sendiri, fenomena ini baru terlihat
dan “populer” (in a wrong way).
Beberapa waktu lalu beredar gambar romantis seorang ibu paruh baya bersama
dengan anaknya. Telanjang, sambil bercumbu. I’m
not here to judge, but I think its pretty obvious.
Menjijikkan.
Tiap fenomena pasti ada cerita unik dibaliknya. Tapi, betapa
uniknya pun kisah itu, hingga memenangkan hati seluruh umat manusia sekali pun,
tak dapat menjadi pembenaran atas dosa yang telah mereka perbuat.
Yes, we are living in
an age where opinions could win over the truth and justice.
Incest, salah satu
topik tabu yang saya benci. Dan hal ini saya temukan dalam salah satu karya
Hiroya Oku berjudul Me-teru no Kimochi. Kisah dimulai dengan perseteruan Shintaro
Koizumi yang seorang hikikomori dengan
sang ayah. Layaknya kasus hikikomori pada umumnya, Shintaro menyalahkan ayahnya
atas semua kejadian yang menimpanya dan memaksanya untuk menjadi hikikomori selama 15 tahun (ini
pandangan subjektif sang karakter saja, not
exactly the truth). Sampai akhirnya, keduanya memiliki kesepakatan, jika
sang ayah dapat memiliki pacar, maka Shintaro akan mengakhiri kehidupannya
sebagai hikikomori.
Tanpa sepengetahuan Shintaro, ternyata ayahnya sudah
memiliki pacar sejak lama. Yoshinaga Haruka, seorang karyawati muda, cantik,
manis, seksi dan memiliki (maaf) payudara yang besar—I had to say the last part because Shintaro kept praising her breast
through the manga. Karena tak percaya, Shintaro melanggar janjinya dan
membiarkan keduanya menikah dan berbulan madu.
Belum sempat kembali ke rumah, ternyata sang ayah meninggal
tiba-tiba. Haruka, karena telah menjadi ibu angkat dari Shintaro, merasa
memiliki beban tanggung jawab yang dipikul suaminya dan melanjutkan 15 tahun
perjuangan suaminya agar anaknya dapat lepas dari status hikikomori-nya. Sepanjang seri, Shintaro menaruh rasa suka pada
Haruka, ibu angkatnya yang masih amat muda itu.
Now, here’s the thing.
As you expect, dari
komik bergenre incest, maka kita
dapat melihat beragam sex joke yang
ada dalam komik ini. Heck, the content is
so serious that I don’t even count them as a joke anymore. Dan, dalam 28
bab yang terpublikasikan, Hiroya Oku menggunakan hak prerogatifnya untuk
membuat sebuah keputusan yang…how do I say
it…”blow my mind” seems not cut it… Ah, heck, I just have to say it.
Atas permintaan Shintaro, ia dan Haruka melakukan hubungan
intim pada penghujung kisah.
Hiroya Oku membuat skenario seakan-akan Shintaro is a lost cause, dan satu-satunya hal
yang dapat menyelamatkan masa depannya adalah membiarkan dirinya merasa
dicintai. The problem is, Shintaro
yang sudah 15 tahun menjadi hikikomori benar-benar
tidak memahami konsep cinta dan menyamakan nafsu birahinya sebagai perasaan
cinta, yang mana ia juga salah menempatkannya (pada ibu angkatnya sendiri). How do I say it, eh?
It’s f***ing messed
up.
Saya sudah mengenali karya Hiroya Oku sejak beberapa tahun
yang lalu dan hal ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Opini “kalau saya
tidak melakukan ini, saya pasti gagal dalam kehidupan” dan akhirnya
menghalalkan segala cara agar visi opini itu terwujud (seperti bersetubuh
dengan ibu angkat super seksi itu) tanpa menunjukkan segala konsekwensi yang
dapat terwujud dari keputusan tersebut.
Tidak, kalau anda menganggap Hiroya Oku akan menutup kisahnya
dengan “Ya, jangan ditiru ya hal seperti ini,” anda salah. As I said, Hiroya Oku seakan membenarkan keputusan Shintaro dan
Haruka yang melakukan hubungan intim terlarang itu dengan menutup kisah ini
dengan happy ending.
Not like I hate happy
end, tapi “jembatan” yang menyambungkan antara masalah dengan konklusi
cerita Me-Teru no Kimochi benar-benar membuat hati nurani saya terbakar. Please, common sense. There’s something that
you can do and you CAN NOT do in life and in work industries!
Terakhir, saya tegaskan, saya membenci komik ini. Bahkan saya lebih membenci fakta dimana saya bisa-bisanya meneruskan membaca sampai tamat.
Terakhir, saya tegaskan, saya membenci komik ini. Bahkan saya lebih membenci fakta dimana saya bisa-bisanya meneruskan membaca sampai tamat.


This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKalo dibaca dengan pikiran tertutup bahwa "incest is bad" pasti gaakan dapet pesannya.
ReplyDeleteItu Haruka ngajak pacaran sampe akhirnya berhubungan intim cuma 1 tujuan : buat ngasih rasa percaya diri ke Shintaro so he can stand up for himself. Umur mereka deketan dan cara alus gaakan cukup utk bkin dia berani mandiri (seperti diilustrasikan psikiaternya klo bapaknya dan Haruka bagaikan pilar tempat dia bersandar). Its her (inconventional) way of showing her love as a mother.
Toh bisa diliat akhirnya Shintaro bangkit, bs punya usaha sndiri dan bahkan istri dan anak. Dan pada akhirnya dia nyamperin Haruka dan bilang "Terima kasih Ibu!", d situ jelas klo cinta mereka pada akhirnya adalah sebagai ibu-anak.
Inti ceritanya justru di bagian kontroversial itu. There are many ways to show your love. This is one example that touched the moral borderline but still counts as one.