Wednesday, January 18, 2017

Me-Teru no Kimochi: Fenomena Hikikomori dan Solusinya Sederhananya



First post which has no major spoiler in it. Aha!

Perhatian, tulisan ini sama seperti tulisan saya sebelumnya. SUBJEKTIF. Ada pun saya menulis ini berdasarkan hasil pemikiran saya dengan memperhatikan sikap para ahli terhadap kasus ini.

***

Seperti yang sudah saya tuliskan dengan ringkas sebelumnya, Kurono Kei adalah gambaran pemuda Jepang dewasa ini. Ia harus menjadi dewasa dan lebih berpikir kritis agar dapat bertahan hidup melawan alien (personifikasi dari ancaman luar Jepang). Beda dengan dalam komik Me-Teru no Kimochi, Hiroya Oku lebih gamblang memaparkan kasus yang ada di Jepang tanpa malu-malu.



Shintaro bisa dikatakan sampah masyarakat. No doubt. Namun sayangnya, sampah masyarakat itu tidak bisa dibinasakan seenak udel kita. Sebagai bangsa yang beradab, tentu ada tahapan-tahapan tertentu yang wajib dilakukan untuk memberdayakan sampah-sampah masyarakat macam Shintaro itu.

Dan seperti pembahasan singkat saya sebelumnya, cara yang dilakukan sang ibu angkat, Haruka, adalah cara yang teramat salah dan imoral. Masih ada cara lain yang lebih beradab, manusiawi dan mulia, ketimbang mempersembahkan kemolekan tubuh wanita kepada sampah masyarakat (Shintaro) itu. Let’s talk about them a bit.

Sebelumnya, mari mengidentifikasi permasalahannya. Dalam psikologi, dapat dikaji beberapa penyebab hikikomori. Tapi, satu hal yang bagi saya sangat menonjol dan hampir terdapat pada semua penderita hikikomori; mereka membutuhkan “pengakuan” dari orang lain.

Rata-rata, yang mengalami fase hikikomori adalah remaja, dimana ego mereka sedang tinggi-tingginya. Mereka tertekan oleh keadaan dimana ia merasa tidak dibutuhkan, tidak diakui sebagai individu yang berpotensial, tidak dianggap selayaknya orang-orang disekitarnya, sehingga ia akan menarik diri perlahan-lahan dari masyarakat. Pada akhirnya, proses pelarian diri itu dinikmatinya dan membuatnya merasa sangat nyaman dalam kamar/rumahnya sendiri, tanpa mempedulikan bagaimana orang lain menanggapi perilakunya.

Um, yes. They usually think the world revolves around them. Even though they deny this concept with their heart, their mind keep refusing to except the cruel fact: they are not actually needed.


Tunggu sebentar. Memang terdengarnya kejam. Tapi, bagi saya pun, dunia ini tidak membutuhkan saya. I, to become someone that matter to the world, have to have a set of QUALITIES that I could offer to them. Yah, logika saja, apakah suatu barang yang tak memiliki harganya akan anda simpan hingga waktu yang lama? Kecuali anda seorang kolektor barang tak berguna, anda tak mungkin melakukannya.

So, we already got the answer: Become someone that matters, that needed by someone or everyone, that could contribute something—even if it was something trivial—to the world. Make changes, don’t just hope for it.

Mengutip dari sabda Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasallam,

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Melihat dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut dapat menjelaskan kedudukan seorang insan yang sukses dan bagaimana caranya—dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Jadi, memang obat dari seorang hikikomori bukanlah (maaf) selangkangan dan payudara wanita, seperti yang ditampakkan dalam komik Me-Teru no Kimochi, tapi adalah sebuah penataan hati dan kesadaran jiwa bahwa bila ia ingin dicintai, maka dia harus berbuat ramah kepada orang lain (seburuk apa pun perilakunya padamu) dan memiliki manfaat bagi orang lain.

It’s simple really. Suatu hal yang menghambat hikikomori untuk berubah adalah sikap mereka yang masih nyaman pada kesengsaraan. Padahal, Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil sudah menentukan bahwa tak akan berubah nasib seseorang, sebelum ia sendiri yang berusaha untuk mengubahnya.

Wallahua’lam.

Sumber:




No comments:

Post a Comment