Ya, itu saya. Seorang pemuda sederhana dengan segudang kemalasannya.
Satu hal yang saya sering amati adalah komik, baik komik lokal (Indonesia) maupun komik luar negeri (Jepang, Amerika, Korea, dan sebagainya). There’s more to it, than just an entertainment. Ada suatu latar belakang yang mendorong sang komikus untuk membuat karyanya, if you look at it enough.
Misal, dalam beberapa serial komik shounen (lelaki remaja) mingguan Jepang, beberapa judul komik tampak dibuat dengan dilandasi oleh sikap desperate seorang komikus terhadap kehidupan sehari-hari dirinya/orang lain. Rintangan yang dihadapi pada umumnya adalah masalah cinta yang tak sampai, kesepiannya seorang penyendiri, lelaki lemah yang sering di-bully, hingga ke masalah sosial yang lebih rumit; ingin membantu menyelesaikan masalah orang lain sekuat yang ia mampu.
Pada intinya, karya seorang komikus talks a lot about him/her self. Ini adalah kaidah utamanya. Sebab seorang komikus amat mustahil untuk menciptakan karya berseri tiap minggunya tanpa ada interest terhadap karya yang ia ciptakan tiap harinya. That being said, sang komikus (dapat dikatakan) wajib berempati terhadap segala sesuatu yang ia buatnya, entah itu tokoh protagonis, maupun tokoh antagonis.
Maka, dari segala ocehan tersebut, saya bermaksud untuk membahas unsur-unsur yang terkandung dalam komik-komik favorit saya dalam blog ini. Tapi, dalam beberapa entri ke depan, saya akan memfokuskan diri pada analisa subjektif saya terhadap karya-karya seorang komikus Jepang terkenal, Oku Hiroya, yang terkenal dengan karya masterpiece-nya “Gantz” dan beberapa judul lainnya dari komikus yang sama.
Saya berharap, dengan adanya blog ini, para pembaca di Indonesia dapat lebih kritis dalam menyikapi karya komik, baik karya lokal maupun dari luar Indonesia. Tidak hanya menggunakan komik sebagai media hiburan, tapi juga media pembelajaran kritis.
Oh ya, dalam entri blog ini, akan ada unsur spoiler-nya. Jadi, bagi pembaca setia Gantz yang belum membaca keseluruhan kisah dengan lengkap tapi belum mau merusak reading experience-nya, maka saya saran kan jangan membaca beberapa post awal blog ini.
Dengan itu, sampai jumpa di entri berikutnya, wahai pembaca yang kurang kerjaan. (jk)
Salam hormat,
Mazza Fakkar Alam
No comments:
Post a Comment