Wednesday, January 18, 2017

Inuyashiki: Jangan Remehkan Kaum Tua!

Spoiler alert. Duh.

Dalam karya Hiroya Oku terbaru, Inuyashiki, dapat dirasakan gaya penceritaan yang baru pada karya komikus fenomenal ini. Kalau pada karya-karya sebelumnya Hiroya Oku mem-branding karyanya sebagai karya yang penuh dengan konten dewasa (Hen, Zero One, Gantz dan Me-teru no Kimochi), pada karya terbarunya Inuyashiki, Hiroya Oku rebranding besar-besaran karyanya.

Yes, he removes the sex part so far! Sorry folks, no sexy time here!


If you have a plan to read it, you're going to see this face a lot. Like, A LOT. Less pretty face, more old faces.

Dalam komik ini, kisahnya berpusat pada kisah Inuyashiki Ichiro, seorang bapak paruh baya yang karena suatu sebab ia menjadi seorang robot (itu spekulasi awal saya membaca komik ini, sebab setahu saya belum ada penjelasan secara resmi dalam komik tersebut). Walau masih paruh baya, Inuyashiki terlihat persis seperti kakek-kakek berumur 70-80 tahun. Gambaran ini SANGAT penting dalam komik ini. Sebab, seperti yang kita ketahui, Hiroya Oku selalu membuat suatu karya sebagai bentuk keresahan dan kegundahannya terhadap masyarakat. Entah diperlihatkan secara implisit (silahkan baca Gantz: Kurono Kei, Alien dan Metafora Bangsa Jepang Dewasa Ini) maupun secara eksplisit, seperti dalam Inuyashiki.

Me-Teru no Kimochi: Fenomena Hikikomori dan Solusinya Sederhananya



First post which has no major spoiler in it. Aha!

Perhatian, tulisan ini sama seperti tulisan saya sebelumnya. SUBJEKTIF. Ada pun saya menulis ini berdasarkan hasil pemikiran saya dengan memperhatikan sikap para ahli terhadap kasus ini.

***

Seperti yang sudah saya tuliskan dengan ringkas sebelumnya, Kurono Kei adalah gambaran pemuda Jepang dewasa ini. Ia harus menjadi dewasa dan lebih berpikir kritis agar dapat bertahan hidup melawan alien (personifikasi dari ancaman luar Jepang). Beda dengan dalam komik Me-Teru no Kimochi, Hiroya Oku lebih gamblang memaparkan kasus yang ada di Jepang tanpa malu-malu.



Shintaro bisa dikatakan sampah masyarakat. No doubt. Namun sayangnya, sampah masyarakat itu tidak bisa dibinasakan seenak udel kita. Sebagai bangsa yang beradab, tentu ada tahapan-tahapan tertentu yang wajib dilakukan untuk memberdayakan sampah-sampah masyarakat macam Shintaro itu.

Dan seperti pembahasan singkat saya sebelumnya, cara yang dilakukan sang ibu angkat, Haruka, adalah cara yang teramat salah dan imoral. Masih ada cara lain yang lebih beradab, manusiawi dan mulia, ketimbang mempersembahkan kemolekan tubuh wanita kepada sampah masyarakat (Shintaro) itu. Let’s talk about them a bit.

Tuesday, January 17, 2017

Me-Teru no Kimochi: Komik Imoral yang Tak Layak Dipublikasikan

Spoiler alert. Duh.

Incest bukan merupakan fenomena baru, tapi di Indonesia sendiri, fenomena ini baru terlihat dan “populer” (in a wrong way). Beberapa waktu lalu beredar gambar romantis seorang ibu paruh baya bersama dengan anaknya. Telanjang, sambil bercumbu. I’m not here to judge, but I think its pretty obvious.

Menjijikkan.

Tiap fenomena pasti ada cerita unik dibaliknya. Tapi, betapa uniknya pun kisah itu, hingga memenangkan hati seluruh umat manusia sekali pun, tak dapat menjadi pembenaran atas dosa yang telah mereka perbuat.

Yes, we are living in an age where opinions could win over the truth and justice.

Incest, salah satu topik tabu yang saya benci. Dan hal ini saya temukan dalam salah satu karya Hiroya Oku berjudul Me-teru no Kimochi. Kisah dimulai dengan perseteruan Shintaro Koizumi yang seorang hikikomori dengan sang ayah. Layaknya kasus hikikomori pada umumnya, Shintaro menyalahkan ayahnya atas semua kejadian yang menimpanya dan memaksanya untuk menjadi hikikomori selama 15 tahun (ini pandangan subjektif sang karakter saja, not exactly the truth). Sampai akhirnya, keduanya memiliki kesepakatan, jika sang ayah dapat memiliki pacar, maka Shintaro akan mengakhiri kehidupannya sebagai hikikomori.